Popular Post

Posted by : Nurul Fauziati Kartika Monday, July 4, 2011





Chairul Tanjung
The Rising Star 

.
Badai krisis yang berlangsung sejak empat tahun lalu telah meluluh lantahkan bangunan bisnis lama. Para pengusaha raksasa yang populer disebut konglomerat satu demi satu telah berguguran. Tak hanya dari kelompok nonpri, pengusaha besar dari kalangan pribumi pun hampir tak ada yang terbebas dari lilitan masalah. Jika kini disusun sebuah daftar kelompok usaha besar baru, misalnya dengan tolok ukur aset di atas Rp 1 triliun, petanya pasti telah jauh berubah dibanding sebelum krisis.

Belakangan ini, Chairul Tanjung adalah sosok pengusaha yang namanya paling banyak disebut ketika berbicara mengenai peta baru pengusaha besar nasional. Ia banyak disebut sebagai the rising star. Pengusaha pemilik Para Group ini berhasil melakukan lompatan bisnis yang spektakuler justru ketika ekonomi masih dilanda badai krisis.

Lompatan besar bermula ketika ia memutuskan untuk mengambil alih kepemilikan Bank Mega pada 1996 lalu. Berkat tangan dinginnya, bank kecil dan sedang sakit-sakitan yang sebelumnya dikelola oleh kelompok Bappindo itu kemudian disulap menjadi bank besar dan disegani. Pada akhirnya bank ini pun menjadi pilar penting dalam menopang bangunan Para Group. Dua pilar lain adalah Trans TV dan Bandung Supermall.

Sebagai sosok pengusaha sukses yang kini langka, Chairul dikalangan teman-teman dekatnya sering dijuluki sebagai The Last of The Mohicans. Sebutan ini mengacu pada sebuah judul film terkenal produksi Hollywood beberapa tahun lalu yang menceritakan kisah penaklukan kaum kulit putih terhadap bangsa Indian di Amerika Serikat sana. Pada akhirnya, bangsa asli yang sebelumnya menjadi tuan tanah dan penguasa wilayah itu kemudian semakin terpinggir dan menjadi sosok langka. Namanya saja sebutan berbau joke sehingga tetap atau tidak penting.

Yang jelas Chairul bukan tergolong pengusaha "dadakan" yang sukses berkat kelihaian membangun kedekatan dengan penguasa. Mengawali kiprah bisnis selagi kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, sepuluh tahun kemudian ia telah memiliki sebuauh kelompok usaha yang disebut Para Group. Kelompok usaha ini dibangun berawal dari modal yang diperoleh dari Bank Exim sebesar Rp 150 juta. Bersama tiga rekannya yang lain, ia mendirikan pabrik sepatu anak-anak yang semua produknya diekspor. "Dengan bekal kredit tersebut saya belikan 20 mesin jahit merek Butterfly," ujarnya suatu saat kepada Eksekutif.

Kini pengusaha kelahiran 16 Juni 1962 itu menjadi figur sukses yang sangat sibuk. Ketika Eksekutif meminta kesempatan untuk sebuah wawancara khusus, ia mengaku kerepotan untuk memilih waktu yang tepat. Meklum, selain sibuk mengurus bisnis, pria satu ini juga punya segudang kegiatan kemasyarakatan. Sebelum terpilih menjadi ketua umum PB PBSI beberapa waktu lalu, Chairul telah aktif di berbagai organisasi sosial seperti PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan sebagainya. "Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan," ungkapnya. (Tokoh Indonesia, Repro Eksekutif No. 269)

Tokoh BisnisWarta Ekonomi 28 Desember 2005 menganugerahi Chairul Tanjung, Komisaris Utama Grup Para sebagai salah seorang tokoh bisnis paling berpengaruh tahun 2005. Prestasinya, dinilai tak sesederhana penampilannya. Tiga pilihan bidang bisnisnya, keuangan, properti, dan multimedia, menunjukkan kinerja yang nyaris sempurna. Chairul Tanjung adalah rising star.

Sulit membayangkan seorang dokter gigi terjun bebas ke dunia bisnis. Namun, tidak bagi Chairul Tanjung, komisaris utama Grup Para. Semasa kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UI, Chairul muda sudah mulai berani berjualan untuk mengasah kemampuannya berbisnis. Nalurinya kian terarah ketika bisnis sepatunya, yang memperoleh pinjaman dari Bank Exim, makin berkembang.

Orang nomor satu di Grup Para ini adalah sosok yang bersahaja. Penampilannya sederhana, tetapi sangat tajam dalam menerjemahkan visi bisnisnya. Chairul mereposisikan kelompok usahanya dalam tiga bisnis inti: keuangan, properti, dan multimedia.

Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu dan mengganti namanya menjadi Bank Mega. Kini bank ini menjadi salah satu bank papan atas. Hingga September 2005, Bank Mega memiliki nilai buku asetnya mencapai Rp1,5 triliun. Tahun 2005 ini sejumlah investor asing dari Eropa dan AS sudah mengajukan surat resmi untuk membeli saham Bank Mega seharga tiga kali lipat dari nilai bukunya. Selain bank, Chairul juga memiliki perusahaan sekuritas dan mulai merambah bisnis asuransi jiwa dan kerugian.

Di bisnis properti, pria kelahiran Jakarta ini mempunyai Bandung Supermall. Mal seluas 3 hektar ini menghabiskan dana Rp99 miliar. Itu pun belum semua area dibangun. Rencananya, di sisa lahan 8 hektar ia akan membangun hotel, restoran, dan bangunan pendukung lainnya.

Bisnis Chairul yang paling moncer adalah Trans TV dengan 21 menara yang mencakup seluruh Jawa, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Papua. Pada akhir 2005 dia berharap seluruh Indonesia bisa di-cover, dengan menambah menara sampai 31—32. Investasi untuk satu menara diperkirakan Rp3—5 miliar. Chairul sangat optimistis di bisnis ini karena melihat belanja iklan nasional sudah mencapai Rp6 triliun, dengan 70% di antaranya akan masuk ke TV.

Ia pun berencana mendirikan stasiun radio dan media online atau satelit. Target lainnya adalah bersiap masuk ke media cetak. Dua-tiga tahun setelah Trans TV mendapatkan keuntungan, ia berencana melepas 20%—30% sahamnya ke pasar modal. Dana hasil IPO ini akan ia alokasikan untuk pengembangan usaha dan membayar utang.

Saking banyaknya, Chairul mengaku sampai tak tahu berapa jumlah perusahaannya. Namun, yang jelas, Grup Para mempunyai Para Inti Holdindo sebagai holding company, yang membawahkan beberapa subholding: Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi), dan Para Inti Propertindo (properti). Kini ia mempekerjakan 5.000 karyawan. 
(http://www.tokohindonesia.com)

 


Prinsip Manajemen Strategi

Manajemen strategis bukan hanya sebuah mata kuliah yang diajarkan di sebagian besar jurusan bisnis di banyak perguruan tinggi. Ini merupakan sebuah metode yang digunakan entrepreneur atau pemilik bisnis untuk merencanakan dan melaksanakan keberhasilan bisnisnya. Kelas manajemen strategis meliputi konsepsi dan penggunaan pemasaran, pengaturan pegawai,  outsourcing, program sosial kepedulian masyarakat,  dan banyak faktor lainnya yang menjadi bagian dari pengelolaan bisnis dengan baik.

Visi
Satu prinsip manajemen strategis  ialah menciptakan dan menjaga visi perusahaan. Visi ini termasuk harapan bagi tempat perusahaan di pasar dalam jangka pendek dan jangka panjang, begitu juga dengan peran apa yang diambil perusahaan dalam masyarakat atau bahkan dalam bangsa.  Menjaga visi bisnis Anda dalam benak akan menentukan bagaimana Anda mengatur aspek lainnya dalam perusahaan.

Metode-metode untuk Meraih Visi
Setelah Anda memiliki visi dalam perusahaan Anda, Anda harus menemukan cara untuk mencapainya. Ini termasuk memperkenalkan perusahaan terhadap sebanyak-banyaknya orang, mendorong penjualan, mempertahankan pelanggan atau membangun lokasi atau waralaba lain. Menemukan sebuah metode yang tepat dan cocok untuk bisnis Anda ialah sebuah aspek sukar dalam manajemen strategis. Mudah untuk mengetahui apa yang Anda inginkan, tetapi sangat sulit untuk tahu bagaimana cara mewujudkan keinginan tersebut. Metode-metode yang bisa digunakan yaitu perubahan personil, outsourcing, pemasaran dan periklanan, dan investasi.

Pelaksanaan Metode
Manajemen strategis  tidak hanya meliputi perencanaan dan curah gagasan tetapi juga melaksanakan ide-ide dan metode yang telah Anda miliki.  Prinsip pelaksanaan manajemen strategis melibatkan realisasi ide-ide tersebut ke dalam dunia bisnis dan membuatnya bekerja untuk perusahaan Anda. Misalnya, setelah Anda memutuskan metode terbaik yang akan Anda gunakan untuk mendorong penjualan dalam bisnis Anda, contohnya iklan atau rencana pemasaran, manajemen yang baik juga membutuhkan pelaksanaan rencana tersebut. Hal ini bisa menjadi sebuah prinsip yang sulit karena sering membutuhkan investasi modal atau perubahan dalam perusahaan.

Menyesuaikan Visi
Prinsip  manajemen strategis lainnya ialah menyesuaikan  visi dengan keadaan yang ada di sekeliling bisnis Anda. Karena kondisi pasar dapat mempengaruhi bisnis Anda, dipandang perlu untuk menyesuaikan visi. Sama halnya dengan kondisi pasar, teknologi juga selalu berubah. Bisnis Anda membutuhkan sebuah penyesuaian yang berkala agar perusahaan tetap dapat bersaing di pasar di mana ia bergerak.(http://www.ciputraentrepreneurship.com)


AbstraK

Perkembangan stasiun televisi di Indonesia semakin marak setelah 10 stasiun TV Swasta dan TVRI melaksanakan siarannya setiap hari. Untuk mempertahankan eksistensinya, maka persaingan gencar antar stasiun TV Swasta pun terjadi.
TRANS TV sebagai salah satu stasiun TV Swasta yang relatif masih muda menunjukkan eksistensinya dengan menempati peringkat ke-4 di antara stasiun TV Swasta pada usianya 10 bulan.
TRANS TV memiliki manajemen yang solid dengan mengandalkan budaya perusahaan yang diidentifikasikan sebagai good corporate governance. Perubahan yang mendasar dalam strategi programming yang semula mengutamakan acquisition program menjadi in-house production membawa implikasi pada perubahan kebijakan human capital dan strategi keuangan. Strategi penjualan yang 'menjemput bola' juga menghasilkan revenue yang tinggi, sementara overhead cost yang rendah. 
Hal ini berpengaruh pada bargaining position yang baik dalam bidang penjualan. Aktivitas promosi dilakukan baik dengan on air dan off air promo, sedangkan pemanfaatan teknologi digunakan serba digital. Selain itu sumber daya manusia yang digunakan TRANS TV adalah 80% berusia muda di bawah 27 tahun dan 20% tenaga yang sudah berpengalaman.

(Sumber: http://www.lontar.ui.ac.id/ oleh Anita Wulandari)



TRANS TV IN BRIEF
         Trans TV atau Televisi Transformasi Indonesia adalah sebuah stasiun televisi swasta Indonesia, yang dimiliki oleh konglomerat muda Chairul Tanjung dengan grup Para-nya. Stasiun ini melakukan siaran pertama kali pada tahun 2001.
         Dengan motto Milik Kita Bersama, konsep tayang stasiun ditujukan kepada masyarakat menengah keatas (ABC Class).
         Menjadi grup Trans Corporation dan membeli saham TV7 sebesar 49% yang sebelumnya dimiliki oleh Kelompok Kompas Gramedia.
         Kantor Pusat stasiun ini berada di Studio TransTV, Jalan Kapten Pierre Tendean, Jakarta Selatan.
         Trans TV berhasil menjadi televisi nomor 1 untuk kaum menengah ke atas. Televisi ini maju berkat program buatan sendiri yang menarik dan inovatif. 



Visi: 
Trans TV aims to become the place for ideas and aspirations to educate and improve the living quality of the people. Trans TV is also devoted to guarding  national unity and democratic values by airing quality shows with morals that are acceptable by the public and the station’s partners.
In the long run, Trans TV aims to become the best television station in Indonesia and in ASEAN. It also commits to always provide positive outcome for its stakeholders by airing quality shows and by holding high morals and work cultures that is acceptable by them.


INTERNAL PROCESS & BUSINESS STRATEGY

 
INTERNAL PROCESS & BUSINESS STRATEGY

  Partnering with international Production House  (“Output deal”)

                        Paramount
                        Sony Picture
                        Warner Bros
                        Columbia
80% the best movie  in the world  will be part of Trans TV program
(“Bioskop Trans TV”,  21.00 – 01.00)
Partnering with others the best foreign “Production House” 

 


KEY SUCCESS FACTORS IN BROADCAST INDUSTRY HOW TO WIN THE COMPETITION


 

AWARDS
         Received award from Cakram : Category ”Media Pendatang Potensial”
         Received award from MUI: Anugrah Syiar Ramadhan 1423 H.
            Category: ”Siaran Pendukung, Suasana Ramadhan Terpuji”
         Received award from Cakram: Television Category
         Award from MUI: Anugrah Syiar Ramadhan 1424 H. Category: ”Siaran Menjelang Buka Puasa (Penghargaan III)”
         Asian Television Award 2004: Category: best reality program-Dunia Lain-Lawang Sewu
         Nomination: best music program - Diva Dangdut Nirwana
         October 2004: For All Nation (FAN) Campus Category: Electronic Media ”Peduli Narkoba”
         Panasonic Award 2005, category: Favourite Talk Show  “Ceriwis”.
         Award from Anugerah Kebudayaan 2005 : “Surat Sahabat”, category: Children’s program
         Finalist in the Asia Pacific Broadcasting Union and the Cable and satelite Broadcasting Association of Aisa UNICEF Child Right Award 2005 (ABU/CASBAA UNICEF Child Rights Award 2005:
         “Surat Sahabat 2005”
         News Program: “Hitam Putih” Received  ”Piala Citra” for Documentation category”
         Nomination of Anugerah kebudayaan 2005 for Features category: “Jelajah”
         ISO 9001:2000 for  News, Produksi & Facilities, and Finance. In the year 2004 Trans TV already received ISO Certification ISO 9001:2000 for Sales & Marketing.
         PANASONIC AWARD 2006
         Program “Current Affair” Terfavorit
Kejamnya Dunia
         Program Komedi / Lawak Terfavorit
Extravaganza
         Program Anak-Anak Terfavorit
Dapur Klok-klok
         PENGHARGAAN JAWA POS 
            Variety Show Extravaganza :
            - Pemenang Grup Lawak Terfavorit 2006


TRANS TV SITUATION ANALYSIS
         Unsur-unsur yang berpengaruh terhadap variable strategis eksternal, yakni:
        C2 – Customers (Pelanggan)
        C3 – Competitors (Pesaing)
        C4 – Channels (Distributors/Agent dll)
        C5 – Centers (Pemasok/Vendor)
        C6 – Changes/Forces (Regulator, Sosial, Budaya Nasional, Demografi,Lingkungan, Ekonomi, Politik, Teknologi, Special Interest Group dll)
         Unsur-unsur yang berpengaruh terhadap variable strategis internal, yakni:
        C1–Company (Keuangan, SDM & Manajemen, Leadership, Operasi/Produksi, Brand, Pemasaran, Produk/Layanan, Budaya Perusahaan, R & D, MIS dll)
         Lazimnya variabel-variabel (faktor-faktor) lingkungan eksternal dikelompokkan menjadi 2, yakni : Opportunities (Peluang) dan Threats (Ancaman).; sedangkan variabel-variabel (faktor-faktor) lingkungan internal dikelompokkan menjadi 2 pula, yakni : Strengths (Kekuatan) dan Weaknesses (Kelemahan).
Berdasarkan ilustrasi kasus diatas, maka variable/faktor lingkungan eksternal &
internal TRANS TV dapat dituliskan sebagai berikut :
         Variabel / Faktor Lingkungan Eksternal TRANS TV :
        Opportunities (Peluang) :
         Meningkatnya kebutuhan hiburan dalam rumah tangga, sebagai pengusir stress dan perekat keutuhan rumah tangga (C2 – Customers)
         GDP Nasional terus tumbuh, hal ini menyebabkan daya beli masyarakat juga meningkat, termasuk kemampuan memiliki TV serta berlangganan listrik. (C6 – Changes/Forces)
         Semakin tingginya kebutuhan perusahaan mengiklankan produk-produknya di media elektronik (khususnya TV). (C6 – Changes/Forces)
         Peluang kerjasama dengan BUMN Indonesia ataupun perusahaan besar di luar negeri. (C6 – Changes/Forces)
        Threats (Ancaman) :
         Kebijakan Regulator (Pemerintah dan KPI) yang sering bersifat ”populis” dan berubah-ubah. (C6 – Changes/Forces)
         Persaingan yang makin ketat diantara para Stasiun TV lama maupun baru, terutama manuver yang dijalankan oleh the big four, yakni SCTV, RCTI, Indosiar dan Metro TV. (C3 – Competitors)
         Adanya Pemerintah Daerah yang over protected terhadap stasiun TV Lokal, sehingga ”melarang” siaran TV Nasional.(C6 – Changes/Forces)
         Variabel / Faktor Lingkungan Internal TRANS TV:
        Strengths (Kekuatan)
Kekuatan yang dimiliki TRANS TV, berupa potensi yang dapat dimanfaatkan dalam mencapai visi, misi dan obyektif yang telah ditetapkan, adalah sebagai berikut :
         Corporate Culture atau Budaya Perusahaan, yang mana budaya perusahaan TRANS TV bukanlah sekedar peraturan tertulis, dasar operasional, atau sistematika kerja perusahaan.; namun lebih dari itu, budaya TRANS TV adalah spirit d’ corps – jiwa perusahaan, yang menjiwai keseharian dan segala aktivitas perusahaan.
         Innovation, untuk mempertahankan market yang telah dikuasai serta penetrate market baru dengan meluncurkan program baru yang mampu merebut hati para pemirsa.
         Tingginya kredibilitas perusahaan yang menjadi dasar terbentuknya trust – kepercayaan – dari para stakeholder.
         Leadership style – gaya kepemimpinan – yang jelas, tegas, dan terarah namun visioner.
         Manajemen stasiun televisi dikelola oleh tenaga profesional.
         Pelopor in-house program di tanah air dengan rating yang tinggi, misal : Extravaganza, Bajaj Bajuri dll.
         Dipunyainya peralatan broadcasting modern dan canggih.
         Variabel / Faktor Lingkungan Internal TRANS TV:
Weaknesses (Kelemahan).
TRANS TV belum mengembangkan pola “supported by additional media (Multimedia)”, sehingga pemasang iklan dapat diberikan “gimmick” bundling dengan media lain;  eg: MNC, Surya Citra Media, Metro Group

LESSON TO LEARN
1)      Dalam persaingan yang hyper competitive, TRANS TV berhasil menyusun excellent business process, yakni men-deliver suatu value xp kepada audience/pemirsa nya yakni berupa experience yang valuable.
2)      Value xp ini akan menimbulkan kepuasan pemirsa, sehingga pemirsa akan setia menonton  program-program TRANS TV dan hal ini akan meningkatkan rating program2 tsb, dan berdampak  revenue yang meningkat.
3)      Value xp dihasilkan dari kokaborasi : creativity, quality standard dan responsive to action..
4)      Antara people, strategy, process dan technology saling linked dan “bahu membahu” menghasilkan suatu produk atau program yang berkualitas dan berkelas.
5)      Walaupun posisi TRANS TV telah berada di sel-1, namun inovasi dan creativity terus di explore agar posisi tsb tetap dapat dipertahankan.
(Sumber: Dr. Henry Purnomo, Padjadjaran University’s Magister Management Program)

- Copyright © Selasar of Imagine - Noi Everain - Powered by Blogger - Designed by Noi Everain -